oleh

Tanjak Siak, Cinderamata khas Melayu asal Negeri Istana dari Alfedri untuk Presiden Colombia

Media TrEN RIAU, Bogota – Pertemuan Forum Hutan Tropis atau Tropical Forest Alliance (TFA) Internasional dilaksanakan di Bogota-Colombia, mulai Selasa (7/5/2019) waktu Bogota. Bersama Deputi Badan Restorasi Gambut (BRG) RI, Bupati Siak Alfedri mempresentasikan Siak Kabupaten Hijau. Di hadapan pemimpin Dunia dan menteri yang hadir saat itu, Alfedri menyampaikan tinjauan pendekatan Jurisdictional Approach-Green District of Siak.

Bupati Siak Alfedri diundang sebagai pembicara, karena Kabupaten Siak dianggap berhasil mengurangi deforestasi dengan berbagai program kegiatan, diantaranya konservasi dan restorasi lahan gambut, penanganan dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Kemudian pengembangan ekowisata, pemberdayaan masyarakat dan pemanfaatan varietas bernilai ekonomi ramah gambut di lahan TORA, sehingga dipercayakan mewakili negara-negara tropis di Asia tenggara dalam forum tersebut.

Memulai presentasinya, Alfedri terlebih dahulu memperkenalkan Provinsi Riau sebagai rumah dari lahan gambut terluas di Indonesia. Kata Alfedri, Beberapa tahun belakangan provinsi Riau mengalami banyak tantangan dalam kebijakan tata kelola lahan, terutama karena tibanya musim kering yang menyebabkan kebakaran.

“Siak sebagai salah satu kabupaten di Provinsi Riau, memiliki komitmen terhadap pembangunan hijau, dengan luas wilayah gambut mencapai 57 persen dari total wilayah atau diperkirakan luasnya sepadan dengan tiga kali luas wilayah Ibukota Bogota, dan 21 persennya merupakan lahan gambut dengan kedalaman 3-12 meter,”tutur Alfedri.

Komitmen tersebut  diwujudkan dengan menerbitkan regulasi Peraturan Bupati tentang Siak Hijau, yang memuat pengaturan zonasi tata ruang untuk konservasi, perkebunan, industri dan pemukiman.

“Peraturan tersebut saat ini sedang diterjemahkan menjadi Roadmap Siak Hijau yang akan menjadi payung untuk berbagai kebijakan pembangunan di Kabupaten Siak ke depan. Komitmen Siak Hijau tersebut juga didukung oleh masyarakat sipil dan NGO yang tergabung dalam koalisi ‘Sedagho Siak’, yang komit memberikan segala bentuk dukungan teknis yang dibutuhkan,”paparnya.

Sebutnya, tujuh perusahaan yang difasilitasi oleh CORE saat ini juga sudah menunjukkan ketertarikannya untuk mendukung rencana Siak Hijau ke depan. Di antaranya Musim Mas, Cargil, Neste, GAR, Pepsico, Unilever dan Danone.

Perusahaan ini menyatakan kerja gotong royong bisa mendukung implementasi komitmen NDPE yang lebih efektif, khususnya pada 4 topik utama yakni : deforestasi, restorasi gambut, dukungan pada pekebun dan HAM.

Dalam inisiatif Siak Hijau, komitmen swasta dan upaya kolaborasinya untuk empat pilar tersebut akan diarustamakan dengan dokumen pembangunan Siak Hijau dan proses pengambilan keputusan multipihak yang melibatkan pemerintah dan masyarakat sipil.

“Model gotong royong untuk visi Siak Hijau kedepannya dapat ditularkan pada kabupaten dan kota lainnya di Indonesia, melalui jejaring Lingkar Temu Kabupaten” ujar Alfedri.

Dalam kesempatan ini, Bupati Siak mempromosikan budaya Melayu Siak dan nilai-nilai kearifan Masyarakat Melayu Siak yang amat sangat menghormati alam lingkungan sebagai bagian tak terpisahkan dalam satu kesatuan ekologis manusia dan alam.

Pemimpin Pemerintahan Kabupaten Siak Provinsi Riau, Republik Indonesia ini berkesempatan berbincang-bincang dengan Ivan Duque Marquez. Alfedri sekaligus menyerahkan tanjak Siak sebagai cinderamata khas orang Melayu asal Negeri Istana kepada Presiden Kolombia tersebut.

“Terimakasih atas pemberian yang berkesan ini, tanjak Siak dari Indonesia,” kata Presiden Ivan Duque Marquez sambil memperagakan tanjak Siak yang diberikan Alfedri untuknya saat didaulat memberikan sambutan.

Kalimat ucapan terimakasih dari pemimpin negara berjuluk Los Cafeteros tersebut disambut Alfedri dengan berdiri dari kursi tempat duduknya sambil menyilangkan tangan tanda memberi salam hormat.

Dalam sambutannya, Presiden Kolombia Presiden Ivan menjelaskan bahwa Kolombia juga memiliki komitmen dan kebudayaan yang sama kuat seperti halnya dengan Siak dalam menjaga dan menghormati alam lingkungan.

Bupati Siak Alfedri menjelaskan, kisah sukses menekan angka kejadian kebakaran hutan dan lahan, serta kemajuan program Siak Hijau memukau para peserta konvensi lingkungan hidup dunia itu. Hal tersebut, kata Ia, membuat Indonesia mendapatkan kepercayaan untuk menjadi tuan rumah pelaksanaan Tropical Forest Alliance (TFA) Internasional Tahun 2020 mendatang, dengan rencana agenda kunjungan peserta ke Kabupaten Siak untuk melihat implementasi Siak Hijau yang tengah berjalan.

“Insya Allah kita siap menerima kunjungan para pemimpin negara dan pemangku kepentingan. Malah saya tadi menawarkan Kota Pekanbaru sebagai tuan rumah, karena tidak begitu jauh dari Kabupaten Siak,” pungkas Alfedri. (rls)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed