oleh

Prosesi Selamatan Tujuh Bulan Kehamilan Pertama Adat Melayu di Parit Aman

Media trenriau.com, BAGANSIAPIAPI – Ba’da Maghrib tampak rumah panggung papan berwarna biru ramai dikunjungi sanak keluarga. Rumah jalan lintas Bagansiapiapi ke Sinaboi tepatnya di parit muneh ini dikunjungi sanak famili. Mereka melaksanakan prosesi tujuh bulan kehamilan pertama adat melayu.

ibu pihak lelaki sedang melakukan upah upah

Perempuan setengah tua yang biasa disapa Mak kemudian duduk diantara dua sujud, Kamis malam (20/062019). Dia menggunakan jilbab putih, lalu memperbaiki sesuatu di depannya. Tampak di hadapan ada satu sisir pisang, satu tampan nasi kunyit dengan ayam kampung rendang dan bakar yang diletakkan nyala lilin madu. Disebelahnya satu buah kendi berisi air yang dihiasi dengan untaian rangkaian daun kelapa muda (yang biasanya membuat ketupat,red), satu bentuk miniatur sampan, dua mayang, dua ember kecil yang juga dihiasi daun kelapa muda. Beberapa jarak dari miniatur sampan ada tempat untuk bara api  yang menyala. Sementara diatas kepala mak berjilbab putih tergantung juga seperti tampan yang dihiasi oleh untaian daun kelapa muda. Ada beberapa dari tempat di nyalakan lilin terbuat dari madu.  Kemudian di sampingnya duduk pasangan pengantin muda yang isterinya sudah hamil tujuh bulan. Kemudian keduanya di tudungkan dengan kain berwarna hitam.

Selanjutnya mak berjilbab putih tersebut mengambil tempayan yang berisi nasi kunyit dan daging ayam yang telah dimasak dan dinyalakan lilin tersebut. Dia mengambil tempayan itu, lalu mengangkatnya dan di letakkan diantara atas kepala kedua pasangan muda itu. Mulutnya komat kamit tidak terdengar apa yang di ucapkannya.

 

“Lakukan upah upah,”katanya mak tersebut kepada orang tua kedua pasangan muda itu.

mengayunkan sampan miniatur

 

Secara bergantian kedua orang tua pasangan muda itu melakukan upah-upah terhadap mereka. Didahului oleh ayah dari perempuan kemudian ayah dari pihak laki-laki (suami perempuan hamil tersebut) selanjutnya ibu perempuan yang sedang hamil selanjutnya ibu dari suami perempuan yang sedang hamil tersebut. Kemudian lilin pada tempayan nasi kunyit yang ada daging ayam tadi di hembus oleh kedua pasangan muda tersebut Selanjutnya yang disapa mak mempersilahkan pasangan muda yang masih berselubung kain warna hitam tersebut makan ayam dan pisang yang ada di hadapan mereka.

 

“Makanlah sepuas-puasnya,”tutur Mak berjilbab putih.

 

“Jangan tawarkan atau mengajak orang lain makan. Jangan malu-malu, makanlah sepuas-puasnya soalnya nanti sudah tidak boleh makan daging ayam ini lagi,”ujar salah satu keluarga yang melihat prosesi tersebut.

 

Sementara pasangan muda menyantap makanan, terlihat mak mengiris jeruk purut besar dan di belah belah di masukkan kedalam kendi yang telah berisi air. Tampak disamping nya juga ada ember besar juga berisi air. Pasangan muda ini makan tanpa bersuara. Mereka makan sepuas puasnya dan memilih potongan daging mana selera mereka. Sedangkan para pihak keluarga saling memperhatikan potongan mana yang pertama sekali diambil oleh perempuan yang sedang hamil tersebut dan suaminya.

 

Setelah pasangan muda tersebut makan selanjutnya dilepaskan kain hitam yang menyelubungi mereka berdua. Mak berjilbab putih tersebut kemudian memperhatikan tempayan berisi nasi kunyit dan ayam tadi. Kemudian diambilnya sebagian nasi kunyit sisa makanan kedua pasangan muda ini. Begitu juga dengan ayam sisa makanan kedua pasangan muda tersebut. Kemudian Mak berjilbab putih ini juga mengambil kulit pisang bekas pasangan muda ini. Selanjutnya sisa makanan mereka oleh Mak berjilbab putih ada yang di letakkan di tempan sampan miniatur dan juga tempat yang bergantungan diatas kepalanya tadi.

 

“Pintu depan dan pintu belakang rumah di buka semua kemudian ada yang menunggu di dekat pintu belakang dan pintu muka,”ujar Mak berjilbab putih.

 

Kemudian Wanita yang lagi hamil tujuh bulan itu diperintah oleh mak untuk duduk berselonjor sejajar dengan bangunan rumah, dimana telapak kakinya menghadap ke pintu depan rumah dan dibelakang badannya dapur. Pintu rumah dibuka lebar-lebar begitu juga jendela dan pintu belakang. Kemudian Mak mengambil peralatannnya dan diletakkannya satu demi satu. Tampak perempuan muda hamil tersebut di apit oleh beberapa bentuk kendi dan tempayan, di samping kirinya maupun disamping kanan. Bahkan di depan dan belakang dirinya.

 

Selanjutnya tempat Mak mengambil berbentuk miniatur sampan tadi , kemudian oleh mak di gendong seperti anak bayi selanjutnya diayunkan diatas kepala perempuan hamil itu. Sementara keluarga lainnya membawa air pecikan upah upah dengan penyapu terbuat sepertinya dari daun pandan. Mak berjilbab putih terus mengayunkan miniatur sampan tersebut dan langsung berlari kecil membawa miniatur sampan tersebut ke ruang depan dan selanjutnya miniatur sampan tersebut disambut keluarga di dekat pintu yang telah menunggu. Mak berlari kecil ke pintu depan diiringi percikan air upah upah.

 

Selanjutnya dengan berlari kecil mak tadi kembali ke posisi perempuan muda lagi hamil tujuh bulan tersebut. Mengambil untaian tempat yang bergantung diatas kepala dirinya tadi selanjutnya di ayun juga diatas kepala perempuan hamil tersebut. Tempayan tadi di sodorkan ke mulut perempuan hamil itu yang selanjutnya perempuan itu meludahi isi tempayan tersebut. Tempayan itu kemudian dibawa berlari kecil kebelakang dengan diiring air percikan upah upah menuju pintu belakang. Di belakang sudah ada juga pihak keluarga yang menyambut tempayan tersebut. Selanjutnya membawa ke pintu belakang. Sampan miniatur di pintu muka dan tempayan di pintu belakang keluar pintu rumah secara bersamaan.

 

Sampan mini atur tadi dibawa keluarga keluar rumah depan untuk kemudian dihanyutkan ke air sungai didepan rumah. Sedangkan tempayan yang sudah ditaburi ludah perempuan muda hamil tujuh bulan ini, melalui pintu belakang di “campakkan” di belakang rumah. Selanjutnya perempuan hamil tujuh bulan tersebut mengganti pakaian dengan sarung yang selanjutnya menuju depan rumah untuk dimandikan oleh pihak keluarga dengan air yang telah di ramu oleh mak tadi.

 

Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, kemudian perempuan muda yang hamil tujuh bulan tadi kembali duduk di tempat semula dengan kaki selonjor ke depan rumah. Selanjutnya mak tadi mengambil mayang muda dan di letakkan diantara kepala perempuan hamil tujuh bulan itu. Setelah mulutnya komat kamit lalu mayang tadi di belah dengan tangannya. Kemudian mayang yang sudah tergurai tersebut di pukul-pukul halus ke punggung wanita hamil itu. Selanjutnya ke badan dan terus ke kaki yang sedang selonjor tadi. Begitu juga untuk yang laki laki, suami perempuan muda tadi,  juga dilakukan hal yang sama.Bahkan pihak keluarga perempuan dan pihak lelaki yang berada d rumah tersebut juga di kebaskan mayang muda itu.

 

“Untuk menghilangkan segala pegal-pegal,”kata wanita yang telah di kebaskan mayang muda.

 

Kemudian perempuan hamil di giring mak ke dalam kamar tempat tidur mereka. Mak membawa peralatannya, ada tampak benang, jarum dan peralatan lainnya. Kemudian itu dibawa juga untaian seperti kalung untuk dipasangkan kepada perempuan sedang hamil tujuh bulan itu.Selanjutnya mereka keluar kamar. Sedangkan perempuan di persilahkan duduk berdekatan dengan peralatan-peralatan yang di telah disusun di lantai.

 

Beberapa lama kemudian setelah perempuan muda hamil tujuh bulan itu duduk, lilin-lilin tersebut di padamkan. Namun tampak untuk memadamkan lilin bukan dengan hembusan angin dari mulut tetapi dengan mengambil lilin madu tersebut dan mencelupkannya  ke air.

 

Selesai prosesi selamatan tujuh bulan kehamilan pertama tersebut selanjutnya dilakukan doa bersama pihak keluarga. Selesai berdoa pihak keluarga berselesehan sambil bercengkerama dan makan makanan ringan. Pihak keluarga kemudian bersalaman dengan Mak berjilbab putih tadi sebagai ucapan terima kasih yang telah melaksanakan prosesi selamatan tujuh bulan kehamilan pertama anak kemenakan mereka. Selanjutnya sisa makanan ayam dan nasi kunyit tadi dibagikan kepada pihak keluarga untuk dibawa pulang ke rumahnya masing-masing.

 

“Hanya sebagian masyarakat Parit Aman saja yang masih menggunakan cara adat seperti ini,”tandas Pendi, orang tua dari perempuan muda yang hamil tujuh bulan ini.

 

Penulis/editor : Andi Gun Riotallo

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed